APAKAH DPC LEM SPSI JAKTIM HARUS SELEKTIF MEMILIH ANGGOTA?

DPC FSP LEM SPSI JAKTIM, 29 Agustus 2015  Ketika kami di hadapkan dalam sebuah masalah perburuhan , ada anggota baru yang ingin bergabung menjadi keluarga besar DPC FSP LEM SPSI JAKTIM , ketika itu anggota baru yang baru bergabung di pastikan ada segudang permasalahan di perusahaanya , pengusaha yang baik tak akan membuat masalah dengan karyawanya dan memicu karyawan itu menginginkan berdirinya sebuah organisasi buruh di lingkungan kerjanya,berangkat dari sinilah masalah itu muncul dan biasanya management di perusahan akan mencari kesalahan dari pengurus baru di lingkungan perusahaan yang di pimpinnya.

Maka mulailah genderang perang di bunyikan , dengan alasan perusahaan merugi maka management melakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak atas alasan perusahaan merugi maka di adakan efesiensi walau harus melawan hukum sedang pasal efesiensi telah di cabut oleh putusan mahkama konstitusi no 19/PUU-IX/2011. Tapi kembali lagi pada aturan Undang-Undang Tenaga kerja no-13 Tahun 2003 tetap akan berlaku pesangon di atas besarnya ketentuan pesangon itu tidak ada walau perusahaan melanggar kebebasan berserikat , malah lebih ke pemberhangusan Organisasi berserikat (UNION BUSTING) nuansa itu jelas sekali , dan terakhir masalah itu terjadi pada PT.Easton Kaleris Indonesia yang beralamat di kawasan industri pulogadung .

Pertama 1 orang pengurus Unit kerja di PHK,kemudian menyusul 5 orang Pengurus kerja dan 6 orang anggota,apakah ini sebuah trik perusahaan yang memproduksi parfum & cosmetic untuk memberhanguskan organisasi buruh atau memang perusahaan yang sedang berjuang melawan krisis ekonomi gelobal di negara indonesia tercinta ini..?

DILEMA BERORGANISASI

awalnya anggota dan pengurus unit kerja PUK bahu membahu tetap bertahan untuk bisa memperjuangkan agar bisa bekerja kembali dengan tekanan demonstrasi atau aksi unjuk rasa dukungan dari seluruh PUK seJakarta Timur , satu bulan dua bulan dengan tanpa di beri gaji karena masih dalam proses ekonomi masih kuat tapi bulan ketiga ke empat dan bulan selanjutnya mulai goyah ,tawaran pesangon pun mulai terlihat manis ,ekonomi buruh mana yang bisa bertahan bila 4 atau 5 bulan tanpa menerima gajian.itu jelas kita sadari.

Mulailah perubahan haluan agar bisa di selesaikan PHK dengan pesangon dan kita sadari betul bahwa kami lemah dalam hal itu.maka dengan itu PHK dengan pesangon berlaku sesuai dengan ketentuan itu berlaku.dengan berkurangnya pengurus unit kerja (PUK) maka berkurang pula perjuangan anggota menuju sejahtera . dan interaksi perjuangan pun mulai bias.

Inilah perjuangan yang di benturkan pada kenyataan permasalahan yang ada

Dan ini real terjadi di sekitar kita ,apakah akan berhenti berjuang dan cukup sampai disini,tentu tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *